Sebelum Api Menemukan Nuri

Sebelum Api Menemukan Nuri
Pemandangan gemerlap lampu-lampu gedung telah menjadi makanan sehari-hari untuk manusia ambis bernama Nuri. Malam ini, ia terpaksa tawar menawar dengan sel-sel di tubuhnya agar tetap terjaga melalui secangkir kopi.
Ia harus kembali berjibaku dengan tumpukan berkas-berkas yang sejak tadi siang termenung-menung di meja kerjanya. Dibolak-baliknya helai per helai setelah ia menempelkan telunjuknya ke saliva yang belum disemai wangi pasta gigi.
Bekerja di Departemen Hukum Keluarga sebetulnya bukan tujuan awalnya, atau dapat dikatakan bahwa Nuri terdampar. Ia boro-boro harus mengubur mimpinya memakai jas desainer, lalu tiap hari berjalan pongah sembari menegosiasikan seluk-beluk akuisisi bernilai miliaran rupiah di Departemen Korporat yang menurutnya lebih berkelas.
Entah apa alasan bagi firma hukum terkemuka di negeri ini memilih sesosok seperti dirinya untuk mengurus ruwet-renteng rumah tangga orang. Sesosok yang wajahnya saja sudah ketus ditambah kepribadiannya yang hanya mengandung empati seujung jari. Bukankah emosionalitas menjadi kualifikasi untuk menjadi pengacara perceraian?
Tujuh tahun berkarier, saat ini Nuri telah memiliki ruangan sendiri di lantai 16. Manakala yang menyangkut masalah perzinaaan, kekerasan dalam rumah tangga, gono-gini, atau hak asuh. Orang-orang dari seluruh negeri pasti akan menyebut nama Nuri sebagai jalur kilat agar hajatnya segera terpenuhi.
Saking terkenalnya, Nuri seringkali diundang ke acara-acara podcast untuk ditanyai apa saja sebab-sebab perceraian. Paling sering tentang kiat-kiat bagaimana menjadi wanita karier yang tetap bisa membangun keluarga ideal seperti dirinya.
Nuri hanya berdengus kesal. Sesukses apapun dirinya, ia masih harus membolak-balikkan berkas-berkas di hadapannya sembari berpikir solusi apa yang bisa ditawarkannya kepada klien esok hari.
Setelah lelah menggerogoti tulang-tulang, dan jam telah bertajuk pada pukul satu dini hari, Nuri menutup semua berkas. Berjalanlah ia mengikuti harum semerbak masakan di warung makan milik Pak Bahar yang membuat perutnya seketika berkeroncong.
Orang-orang seringkali mengira setiap senti kehidupannya penuh kesempurnaan. Suami yang tampan, putri yang berprestasi, rumah dan garasi penuh mobil mewah, pekerjaan mapan, begitulah orang-orang mendeskripsikan kesempurnaanya. Padahal, sekeras apapun upayanya sampai menghasilkan berjuta-juta uang, hanya seporsi mie ayam lima belas ribu-lah yang membuatnya tetap bernapas di tengah hiruk pikuk kota ini.
Sesampainya di rumah, Nuri mampir ke kamar putri semata wayangnya. Diletakkannya tas laptop di kasur dan duduk sejenak untuk mengelus-elus rambut halus putrinya. Mungkin, bisa dikatakan dalam tujuh hari, hanya beberapa jam Nuri benar-benar menatap wajah gadis belia itu. Sisanya? Ya, bekerja.
Suatu waktu, Nuri mengendarai mobil dengan tergesa-gesa di sekitar gedung pengadilan. Setelah menemukan tempat parkir, perlahan dikemudikannya mobil dengan bantuan rear cam agar dapat terparkir. Berkas-berkas sidang yang teronggok berantakan di kursi penumpang segera disatukannya hingga antar sisi kertas menjadi sama rata.
Ia lekas mendorong keras pintu mobil sepenuh tenaga tanpa sadar ruang antar mobil terlalu sempit hingga memunculkan bunyi ‘braakk’ ketika baru saja mendaratkan ujung high heels. Ah, untuk apa ia sejak tadi berhati-hati ketika pada akhirnya mobilnya tetap menyinggung kendaraan lain. Nuri menyipitkan mata, menatap guratan pada bodi mobil itu, lalu mengedarkan pandangan ke segala arah, tidak ada yang melihatnya.
Apa sebaiknya ia pergi saja? Nuri pun bergumam. Lantas, kemudian berjalan dengan setengah berlari memasuki gedung.
Sepoi-sepoi angin yang dihasilkan pendingin ruangan membuat tubuh Nuri sedikit lega dari kepanasan. Sidang akan dimulai tepat pukul sepuluh pagi. Tak terhitung sudah berapa kali Nuri menapakkan kakinya di gedung ini. Bermacam-macam kasus telah ditanganinya.
Menilik banyak kasus-kasus rumit yang telah ditanganinya, Nuri menjadi besar kepala. Tentu sidang kali ini akan berjalan dengan lebih damai mengingat kasusnya tidak rumit. Seorang direktur perusahaan yang telah setahun mengurus perceraian setelah memergoki istrinya yang berumur kepala empat bermain ranjang di kamar tidurnya bersama seorang pria.
Tapi, fokus persidangan bukan perceraian, melainkan hak asuh atas anaknya yang telah memasuki usia 17 tahun. Nuri pun masuk ke ruang sidang sembari mengikuti alur yang berjalan.
“Investigasi mendalam tim penyidik ke lingkungan rumah menyimpulkan bahwa anak tersebut dalam kondisi aman dan terdukung secara emosional. Saat sesi dialog dilakukan secara personal tanpa adanya intervensi, putra dari penggugat secara tegas menyatakan keinginannya untuk tinggal bersama ayahnya,” tuturnya.
“Kami sendiri telah melakukan validasi dengan mendatangkan psikolog secara langsung dalam dialog tersebut. Hasilnya menunjukkan, pilihan putra tersebut murni lahir dari kedekatan lahir dan batin antara keduanya. Untuk itu, kami berharap Majelis Hakim menimbang fakta lapangan ini dalam putusan hak asuh nanti. Kami sendiri telah menyiapkan dokumen resmi terkait dan siap diserahkan,” lanjut Nuri setelah menyalakan pengeras suara di depannya.
“Baik. Kami akan terima dokumen dari Anda. Dimohon kepada panitera untuk menerima dokumen tersebut untuk kami masukkan ke dalam berkas perkara.”
Langkah panitera terhenti ketika pengacara tergugat tiba-tiba bersuara.
“Interupsi, Yang Mulia! Sebelum dokumen dari saudara penggugat dimasukkan ke dalam berkas, kami juga memiliki satu dokumen mutakhir yang akan sangat menentukan relevansi hasil penyidikan yang baru saja dipaparkan saudara penggugat.”
Untuk pertama kalinya sejak sidang tadi gemuruh mesin pendingin ruangan terdengar jelas. Sunyi sejenak bertandang. Nuri mengerutkan dahi. Matanya tertuju pada amplop putih yang diterima Majelis Hakim. Tak lama, dirinya juga menerima amplop yang sama dari pengacara lawannya.
Tangannya sigap membuka penyegel amplop. Lekas baris dan deret huruf yang tersusun di dalamnya dicerna oleh mata dan lokus pikiran Nuri. Kedua alisnya terangkat tinggi, matanya melebar, Nuri menggigit bibir.
“Bukankah tidak ada alasan lagi mengapa sidang hak asuh ini dilanjutkan?” Hakim berbicara.
“Apakah fakta ini baru diketahui tergugat?” Nuri meleparkan pandangan kepada lawannya.
“Tidak, sebenarnya klien kami sedari awal menyadari hal ini. Untuk memastikan dugaannya, baru-baru ini ia melaksanakan tes dan menunjukkan hasil seperti yang telah saya berikan pada sidang ini.”
“Bagaimana pengacara pembela?” Hakim kembali menatap Nuri.
“Yang Mulia, kami akan pertimbangkan fakta ini dan menyampaikan strategi kami di sidang berikutnya.”
Berniat menyampaikan apa yang dialaminya di sidang tadi, Nuri meminta Pak Son, sang direktur datang ke kantornya. Awalnya, Nuri sedikit bimbang dan berusaha mencari cara memberi tahu hal ini dengan tepat. Namun, sang direktur terus-terusan mendesak. Sang direktur memastikan bahwa ia telah bersiap dengan segala kemungkinan.
“Apa ini?”
Mungkin sang direktur sama sekali tidak terpikir untuk menyiapkan mental untuk kemungkinan yang satu ini.
“Ya, Anda benar. Seperti yang telah dibuktikan oleh tes DNA ini, Anda bukan ayah kandung dari putra Anda.”
“Tidak… Tidak. Ini pasti palsu!”
“Saya telah memastikan keabsahan surat ini dengan pengacara tergugat. Suratnya asli.”
Sang direktur hanya terdiam. Dunia baru saja runtuh di pundaknya setelah selembar tes yang digenggam menyiratkan kebenaran yang kejam. Ia tak sadar bulir jatuh membasahi pipinya.
Seketika, jantungnya berdebar tak karuan dan napasnya tersengal seperti sedang dicekik angin kosong. Mungkin sedang berseliweran di kepalanya kenangan-kenangan indah bersama putranya. Sebuah syok yang dialaminya membuat seluruh badan mati rasa.
“Saya tahu ini pasti sulit untuk Anda. Saya akan—“
Ucapan Nuri terhenti ketika menyadari sang direktur masih larut dalam kesedihannya. Bagaimana tidak? Mungkin kabar perselingkuhan tidak cukup menyakitkan baginya dibandingkan fakta bahwa janji yang dahulu digaungkan di hadapan Tuhan tak lebih sekadar dusta.
Semua momen kebahagiaan yang dahulu sempat bertandang tak lebih sekadar sandiwara. Keluarga yang menjadi tempat bagi seorang lelaki melabuhkan lelah, kini berbalik menjadi luka yang terlalu menganga. Sudah resmi harapan sang direktur untuk membesarkan putranya terbakar menjadi abu yang menyesakkan dada.
Lima hari pun berlalu, Nuri kembali memasuki ruang mediasi di gedung pengadilan dengan menggandeng tas berisi berkas-berkas. Suasana di ruang seluas empat kali empat meter itu masih diselimuti suasana hening. Sang direktur menatap meja dengan tatapan kosong. Sementara, di seberangnya sang istri beberapa kali mengerjapkan mata seperti sedang berusaha mencegah air mata membasahi wajahnya.
“S… Saya meminta maaf atas kekacauan yang telah saya sebabkan. Saya… saya sungguh menyesal telah menipu suami saya.”
Keheningan ruangan terpecah ketika sang istri menangis terisak-isak sembari meminta maaf kepada mediator yang berada tepat di tengah-tengah meja diskusi.
“Tergugat, seharusnya Anda meminta maaf dengan tulus kepada klien saya, bukan kepada mediator. Anda sadar besar kerugian yang diderita klien saya berkat kelakuan Anda?” Nuri menjadi sedikit emosional.
Sang direktur akhirnya buka suara.
“Tega-teganya kamu, Dek… Kenapa tega sekali melakukan hal sekeji ini kepada putra kita? Anak itu gak punya dosa apa-apa! Kamu bukan hanya membohongi Abang bertahun-tahun, tetapi juga mempermainkan nasib anak yang Abang kasihi sepenuh batin melebihi hidup Abang sendiri!”
Sang istri hanya tertunduk menangis. Kali ini tangisannya benar-benar tak lagi bisa dibendung.
“Tahukah, Ibu? Kelakuan Anda yang memalsukan asal-usul darah daging dari klien saya merupakan tindak pidana. Pasal demi pasal bisa menyeret Anda ke balik jeruji. Kami juga bisa menuntut setiap bulir nasi, setiap helai pakaian, dan setiap tetes keringat yang telah ia korbankan untuk anak yang ternyata bukanlah miliknya. Anda telah merampas gelar kebanggaannya sebagai seorang ayah.” Suara Nuri terdengar menggema di seluruh ruangan.
Meskipun hukum tak memandang belas kasih, kemurahan hati sang direktur untuk mencabut semua gugatan perceraian membuat sang istri bernapas lega. Pasangan itu menyepakati hak asuh bersama atas anaknya.
Nuri keluar dari ruang mediasi. Ia menyusuri lorong panjang yang sepi itu sembari merapikan sisa dokumen dalam tas kulitnya. Seluruh ketegangan yang Nuri tahan seketika runtuh menjadi kelegaan.
Belum sempat ia mengeluarkan napas lega, langkah lelah Nuri terhenti di tengah-tengah koridor pengadilan. Ia lupa harus segera ke rumah karena tim penyidik akan datang berkunjung ke rumahnya untuk mengecek kelayakan hak asuh anak.
Sejenak Nuri lupa api yang baru saja ia saksikan membakar hidup orang lain, ternyata juga akan bersiap membakar atap rumah tangganya sendiri. Bukankah tidak ada hukum yang melarang pengacara perceraian menghadapi sendiri perceraiannya?
Selengkapnya: https://identitasunhas.com/sebelum-api-menemukan-nuri/
